Tabula Rasa Book reviews

0
8

Author(s): Ratih KumalaDownload  

Description: 

Cinta tak selamanya harus memiliki. Begitu pula cinta Galih dan Raras. Dalamnya cinta Galih pada Krasnaya, gadis Rusia yang telah begitu memikatnya, membuat Galih sulit untuk jatuh cinta lagi. Bahkan kematian Krasnaya tak bisa mengubur cintanya pada gadis itu sampai kemudian dia bertemu Raras. Tetapi cintanya pada Raras bertepuk sebelah tangan. Raras ternyata tidak bisa menerima cinta Galih, ayah dari janin yang pernah dikandungnya. Cinta Raras hanya untuk Violet, sahabat wanitanya yang meninggal dunia akibat overdosis. Kisah cinta yang kompleks dan mengharukan dikemas menjadi cerita yang menarik.

Some Reviews: 99 in Goodreads.com

Heru Prasetio

Heru Prasetio rated it      

“Cinta itu putih. Yang membuatnya berwarna adalah lingkungan sekitar, termasuk konflik politik dan pembawaan diri. Kesempatan kedua datang, tapi tokoh dihantam oleh kenyataan cinta tak harus memilki. Novel yang ditulis istri Eka Kurniawan ini mengisahkan serangkai cinta kasih yang kompleks dan mengaharukan. Terselip beberapa elemen seperi isu politik, siksa barang candu, keterbukaan orientasi seksusal dan kesadaran hati untuk kembali ke agama.”

Brian

Brian rated it     

I read this book almost 2 years ago. I actually wanted to read this book coz I found the sister of this book: Dadaisme, is very interesting. Why are they sisters? Dadaisme is the winner of 2005 (CMIIW) Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta, while Tabula Rasa is the 3rd winner, if i’m not mistaken. After reading this book, I can’t do nothing but agree, this is indeed a very good book. Through its one-of-a-kind style of writing, the diction is just peculiarly complicated but framing the story so beautifully. I still remember the settings of the story, some of it is in Kremlin, Jogja, Canada. The plot was intense, in the middle of the book it is very high-paced, but somehow it’s enjoyable. God, I still can remember the characters: Violet, Krasnaya, Galih, and I think I forget the main female character’s name. Haha. Forgive me. This is a very good book. The second book of the same writer is also intriguing: Genesis.

MY

MY rated it     

saya baca ini karena dikompor-komporin temen saya. katanya bagus banget, blablabla. ya emang bagus sih, tapi gak bagus banget.

gak banyak yang bisa dikomentarin juga dari buku ini karena emang semuanya oke. tokoh-tokohnya, konfliknya, penyelesaiannya, semua oke. cuma ya…. belum bisa bikin saya sampe tergugah gimana gitu.

gaya bahasanya juga enak diikutin. kadang sederhana, kadang jadi ribet banget. di novel ini semua suka-suka penulisnya, wkwkwk. kalo mau akuan ya akuan, kalo mau diaan ya diaan. kalo mau nyelipin akuan di antara diaan ya gitu. tapi gak bikin bingung kok, malah menurut saya di situ seninya. mungkin itu yang membuat novel ini sempet jadi pemenang lomba novel DKJ (betul kah? saya agak lupa), selain emang tema yang diangkat bukan cinta biasa-biasa aja.

overall, great.
tapi belum sampe bikin saya gimana gitu.

Anggrek

Anggrek rated it     

Awalnya sempat terkecoh saya pikir ini novel dari film Tabula Rasa. Tapi, saya membaca novel ini karena memang penasaran sejak novel ini banyak dijadikan objek penelitian oleh senior saya di USU.

Sejak halaman pertama, saya sudah dibuat jatuh cinta oleh novel ini. Bahkan, sampai sekarang saya selalu ingat perumpaan “menara” yang ditujukan tokoh Galih untuk seorang wanita yang sangat dicintainya yang ternyata mengingatkannya pada seorang wanita tercinta yang telah meninggalkan dunia.

Hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah permainan plot dan sudut pandangnya yang berganti-ganti, yang membuat saya terus bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Galih dengan wanitanya dahulu? Dan, siapa pula wanita yang pada akhirnya membuatnya jatuh cinta lagi yang umpamakannya sebagai menara?

Phie-phie Robin

Phie-phie Robin rated it     

Cerita yang dikemas dengan sangat luar biasa. Jenius. Menggambarkan sesuatu dari sudut pandang yang tidak biasa. Hal – hal tabu dikemas dengan sebegitu rupa tanpa menghilangkan atau mengurangi essencenya. mengajak pembaca mendalami setiap katanya, serta mengajak pembaca untuk bisa memahami makna sebuah puisi dan lukisan. ceritanya cukup padat, tapi pas porsinya. Banyak tulisan – tulisan kritis yang sebenarnya mungkin banyak dipikirkan oleh orang lain juga, tapi berani dituliskan tapi dengan cara yang bisa diterima. Setelah membaca buku ini, saya kesal, kesal karena saya terlalu cepat mereguk kenikmatan buku ini, sehingga saya semakin lapar dengan tulisan yang bermutu seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here