Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman Book reviews

0
27

Author(s): Tim Buku TEMPODownload  

Description: 

Sekiranya masih hidup dan diminta memerikan situasi Republik Indonesia di awal abad ke-21, Mohammad Hatta hanya perlu mencetak-ulang tulisannya yang pernah terbit pada 1962: “Pembangunan tak berjalan sebagaimana semestinya…. Perkembangan demokrasi pun telantar karena percekcokan politik senantiasa. Pelaksanaan otonomi daerah terlalu lamban sehingga memicu pergolakan daerah.”Buku ini memaparkan sepak-terjang Mohammad Hatta, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia dari pemikiran sampai ke asmara. Isi buku ini pernah dilaporkan dalam edisi khusus Majalah Berita Mingguan TEMPO sepanjang 2001-2009. Jauh di masa hidupnya, Hatta telah menerawang pahit-getir perjalanan Republik Indonesia sehingga sering disebut “melampui zaman”.Menurut Mohammad Hatta, demokrasi dapat berjalan baik jika ada rasa tanggung jawab dan toleransi di kalangan pemimpin politik. Sebaliknya, menurut dia, “Perkembangan politik yang berakhir dengan kekacauan, demokrasi yang berakhir dengan anarki, membuka jalan untuk lawannya: diktaktor.”

Some Reviews: 63 in Goodreads.com

ucha (enthalpybooks)

ucha (enthalpybooks)  rated it     

Bung Hatta akan selalu menjadi salah satu tokoh yang saya suka. Dalam sejarah, beliau selalu dikaitkan dengan Dwi Tunggal dan selalu jadi yang kedua. Kisah-kisah di sini bisa jadi titik awal untuk lebih mengenal kisah hidupnya yang personal.

Sudah meniatkan untuk membaca kumpulan kisah ini sejak rencana akan ke Belanda akhir bulan lalu. Walau agenda utama di sana berhubungan dengan pekerjaan di kota Den Haag, saya menyempatkan diri ke Rotterdam untuk “napak tilas” berdasarkan cerita di buku ini. Satu bab dari enam bab di buku ini ada tentang Kisah yang Tertinggal di Sudut Rotterdam. Tidak semua tempat yang diceritakan di buku dapat dikunjungi, hanya dua tempat saja yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Rotterdam Centraal Station yang megah. Yang pertama adalah lokasi toko buku tua De Westerboekhandel di area Nieuwe Binnenweg. Di toko buku itulah dulu Bung Hatta sering membeli buku dengan cara mengangsur semasa kuliah. Memang toko bukunya sudah lama tutup dan tidak bersisa bekasnya digantikan deretan ruko dan minimarket di sepanjang jalan. Tujuan berikutnya adalah kampus lama Rotterdamse Handelshogeschool, yang telah berubah menjadi Jeugd Theater Hofplein sekolah setingkat SMP dan tempat belajar teater untuk remaja.

Dari kisah-kisah di buku ini ada dua tempat yang ingin saya kunjungi lagi yaitu Bukittinggi dan Banda Neira. Semoga ada kesempatan.

Lokasi bekas toko buku De Westerboekhandel di Nieuwe Binnenweg

Reiza

Reiza rated it      

Saya sangat-sangat-sangat mengagumi sosok Bung Hatta sebagai seorang negarawan. Tapi baru kemarin saya benar-benar tertarik untuk membaca jejak-jejak pikiran Hatta melalui buku-bukunya, dan itu sebagian besar disumbangkan oleh buku ini.

Mohammad Hatta merupakan sosok yang unik dalam sejarah Republik ini. Sebagai seorang anak Minang, Hatta dibentuk oleh tiga unsur: Islam, Buku, dan kecintaannya kepada Indonesia. Hatta tidak bermazhab dan tidak bergolongan dalam beragama (sepanjang yang saya ketahui sejauh ini, walaupun Hatta pernah ditawari menjadi ketua NU), pun tidak terjebak kedalam tingkat ekstremisme dalam segala hal, kecuali mungkin cintanya kepada buku-buku.

Tak lengkap berbicara Hatta apabila tidak berbicara Sukarno. Keduanya lekat dalam Dwitunggalnya, pun begitu berbeda dalam kelakuan dan pemikiran. Hatta demokratis-sosialis. Sukarno lebih revolusioner dalam pemikiran dan ideologi. Sukarno menggelegar dalam orasi, Hatta menenangkan dalam tindakan. Begitu pula dalam kehidupan pribadi masing-masing. Pun buku ini lebih tebal dibandingkan dengan buku serupa tentang sahabatnya tersebut, dan saya pribadi merasakan bahwa perbedaan ketebalan antara kedua buku tersebut mungkin semacam kompensasi atas minimnya buku-buku mengenai Hatta apabila kita bandingkan dengan buku-buku mengenai Sukarno yang lebih populer.

Hatta merupakan cendekiawan, ilmuwan, negarawan, pemikir, sekaligus sosok anak, suami dan ayah yang berprinsip. Prinsip tersebutlah yang dapat kita telusuri (dan yang memang seharusnya kita telusuri pada zaman ini) melalui jejaknya yang tersebar. Buku ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar tersebut.


Lima bintang!

Agoes

Agoes rated it     

Saya kelupaan bikin review untuk tokoh yang satu ini. Pada dasarnya, tentu kebanyakan orang Indonesia sudah mengenal siapa itu “Hatta”. Tapi tidak mendalam.

Dia orang yang bareng-bareng sama Presiden Sukarno itu kan? + Bapak Koperasi <- Pemikiran orang pada umumnya

Tapi, setelah membaca buku ini saya jadi lebih tahu siapa itu Hatta. Dia memiliki pemikiran sendiri yang berbeda dengan Sukarno. Perbedaan ini pada awalnya dianggap baik, saling melengkapi. Lahirlah istilah Dwi Tunggal. Tapi lama kelamaan menjadi konflik, sehingga pada akhirnya Hatta meninggalkan politik Sukarno.

Yang menarik bagi saya, meskipun Hatta berbeda pemikiran politiknya dengan Sukarno, secara personal hubungan mereka tetap baik. Kisah saat-saat terakhir Sukarno dan pada saat anak SUkarno mau menikah membuktikan hal itu. Sedih banget deh, apalagi kalau membayangkan beban emosional yang diucapkan Sukarno pada saat Hatta mengunjunginya untuk terakhir kali.

Terakhir, saya sih merasa kalau judul ‘Jejak yang Melampaui Zaman’ terlalu berlebihan… toh keempat tokoh Bapak Bangsa ini semuanya juga punya pemikiran dan visi yang jauh ke depan. Jadi yang jejaknya melampaui zaman bukan hanya Hatta seorang.

Imanta Azaki

Imanta Azaki rated it      

Saya adalah pengagum Hatta.

Saya mengagumi pemikiran dan kehidupan Hatta.

Pada buku ini saya menemukan betapa pemikiran Hatta bukanlah suatu pemikiran yang egois. Ia adalah seseorang yang memikirkan bangsanya. Kelurusannya menyebabkan perpecahan dengan Soekarno yang berujung pada pengunduran dirinya sebagai wakil presiden.

Bukan.
Bukan perpecahan sebenarnya.
Melainkan perbedaan.

Akan tetapi walau berbeda pemikiran, ia tetaplah seorang teman bagi Soekarno.

Di buku ini juga terdapat tulisan dari beberapa tokoh mengenai besarnya pemikiran dan kehidupan Hatta. Dari tulisan-tulisan tersebut, saya menemukan perspektif lain mengenai kebesaran Hatta.

Farras Wibisono

Farras Wibisono rated it     

Berbeda dengan otobiografi Hatta “Untuk Negeriku”, buku dari TEMPO ini lebih menitikberatkan ke romantika masa lalu dari masing-masing “Founding Fathers” Indonesia. Dengan mengambil beberapa kisah yang sebenarnya tidak terlalu signifikan dampaknya terhadap perkembangan bangsa ini namun cukup indah untuk dibaca dan dinikmati, buku ini sebenarnya lebih cocok menjadi pintu gerbang bagi generasi Indonesia masa kini untuk mulai menyelami proses panjang pembentukan negara Indonesia, sekaligus sebagai pemicu semangat untuk selalu menghargai sejarah bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here